Rekreasi ke Ancol Mengasah Talenta
Anak
By: Faizah Fauzan
Saya ingin berterima kasih kepada Taman Impian Jaya
Ancol (TIJA). Tempat ini, tanpa saya dan
suami sadari telah telah mengasah talenta
anak kami dalam menggambar. Fara namanya. Ketika tulisan ini saya tulis,
usianya 4 tahun 6 bulan. Fara adalah anak pertama kami. Ia lahir tanggal 17
Agustus 2008. Ia memiliki seorang adik laki-laki bernama Umar yang kini berusia
2 tahun 9 bulan.
Sejujurnya, sebagai ibu, saya menyimpan kekhawatiran
terhadap Fara. Di awal masa tumbuh kembangnya, Fara terlihat aktif dan energik.
Ia sudah bisa berjalan di usia 10 bulan. Dan di usia itu pula ia mulai
bernyanyi, menirukan lagu-lagu yang didengarnya VCD atau pun situs Youtube.
Mungkin orang bilang Fara hanya bersenandung, tapi saya memastikan ia bernyanyi
karena ia tidak hanya bergumam melainkan ada kata-kata yang keluar dari
mulutnya. Fara menirukan syair lagu dengan bahasa bayinya. Masih teringat jelas
betapa lucunya ia menirukan lagu Barnie “I love you, you love me, we are happy
family” dengan kata-kata “mi ami … mi ami”.
Namun sampai menginjak usia 18 bulan, Fara hanya bernyanyi.
Tak ada kata-kata percakapan. Yang keluar dari mulutnya hanya nyanyian. Begitu
terbangun di pagi hari, ia sudah bernyanyi. Fara akan terus bernyanyi sepanjang
hari. Bahkan dalam menangis dan berurai air mata pun Fara mengungkapkan
perasaannya dengan bernyanyi. Mungkin bisa dibayangkan, dalam kondisi mata
basah, Fara menyanyikan lagu “Kasih Ibu” dengan tersedu-sedu.” Bila suara
nyanyian tidak lagi terdengar di seantero rumah, itu berarti Fara sudah
tertidur.
Diusianya yang belum genap 2
tahun Fara sudah hafal lebih dari sepuluh lagu.Orang-orang banyak berkata, “Wah hebat ya, masih kecil sudah
pintar bernyanyi.” Namun pujian itu membuat hati saya getir. Fara memang mudah
sekali menghafal syair lagu yang didengarnya, tapi ia tidak merespon kata-kata
yang diucapkan ayah ibunya. Fara tidak mengulang ucapan yang kami katakan.
Tidak ada fase ekolali yang lazim biasa dialami anak-anak, sehingga di usia 18
bulan itu pembedaharaan kata yang dikuasainya minim sekali. Tak sampai 5 kata
situasional yang bisa diucapkan, yakni meong (ketika melihat gambar kucing),
mati (ketika melihat komputer dalam proses shut down), dan buka (ketika meminta dibukakan sesuatu).
Padahal mestinya anak seusia Fara sudah mengenal puluhan bahkan lebih dari 100
kata.
Ada banyak nama yang membayang-bayangi kondisi anak kami. Speech delay, autisme, attention
hyperactivity disorder (ADHD), attention
deficit disorder (ADD), dan lainnya. Namun saya ingin larut dalam label apapun
pada gadis kecil kami. Bagi saya dan suami, fokus mencari solusi yang tepat
lebih penting dilakukan dari pada menamai Fara dengan salah satu penyakit
gangguan tumbuh kembang. Karena itu, dalam kondisi hamil besar, saya dan suami membawa
Fara untuk diobservasi di RSBA Harapan Kita, Jakarta. Tim ahli yang memeriksa
mengatakan Fara perlu diterapi. Kami diarahkan untuk membawa Fara menjalani
terapi sensori integrasi. Fara mulai menjalaninya pada bulan April 2010,
seminggu menjelang saya melahirkan Umar, anak kedua kami. Alhamdulillah, dalam
beberapa terapi kemampuan Fara untuk mengulang kata-kata sudah muncul. Ini
menjadi titik terang bagi kami untuk melatih kemampuan tumbuh kembang Fara yang
lain.
Hingga kini Fara menjalani tiga jenis terapi, yaitu sensori
integrasi, terapi okupasi, terapi wicara, dan terapi perilaku. Ia sudah bisa
menjawab pertanyaan dan mengutarakan perasaan dan keinginanannya. Sosialisasi
ingin bergaul dengan teman sudah mulai terlihat. Walau masih ada beberapa hal lazimnya
dikuasai anak-anak seusianya yang belum bisa dilakukan Fara.
Sejak Fara berusia 10 bulan, kami beberapa kali membawanya
ke Taman Impian Jaya Ancol. Ini menjadi agenda rutin kami bila ada saudara dari
kampung datang ke Jakarta. Wahana yang cukup sering dikunjungi Fara adalah wahana
Atlantis. Ia sangat menikmati bermain air di tempat ini, terutama di kolam
bola. (Sayang sekarang kolam bola sudah tidak ada. Terakhir kami ke Atlantis,
arena kolam bola sudah berubah menjadi kolam apung). Sayang sekali ya, padahal
ini salah satu arena favorit anak-anak.
Di lain waktu, kami membawa Fara bermain di Pantai Timur,
lengkap dengan membawa perangkat rumah tangga ember, mangkok, sendok, dan lainnya
untuk dijadikan alat pencetak istana pasir.
Biasanya kami berlama-lama bermain pasir hingga menjelang sunset. Kami beberapa kali membawa Fara naik perahu
layar yang biayanya murah meriah. Selama mengarungi Teluk Jakarta, Fara duduk
dengan tenang, menikmati gemercik kala dipecah perahu. Sesekali cipratan air
laut mengenai wajahnya, ia senang sekali.
Ketenangan Fara selama di atas perahu sangat bertolak
belakang dengan kebiasaannya di rumah yang selalu aktif bergerak. Kami butuh
waktu meyakinkan diri untuk memulai mengajak Fara naik perahu. Khawatir bila
saat di tengah laut dia meronta-ronta minta turun. Bisa berabe nanti. Makanya saya dan ayahnya merasa takjub Fara bisa
anteng di dalam perahu layar. Bahkan
Fara bahkan berani berdiri dengan tenang berpengangan pada tiang kapal,
membiarkan angin memainkan rambutnya.
Perahu Layar
Di akhir tahun 2012, Desember lalu, Fara mendapat hadiah
komputer PC dari pamannya. Komputer itu kami letakkan di meja kecil tempat Fara
biasa mencoret-coret kertas. Bagi kami komputer itu bisa mengalihkan Fara dari
merecoki kami ketika sedang bekerja dengan laptop. Fara ingin ikut nibrung
mengetikkan angka dan huruf yang sudah dikuasainya. Kami juga memperkenalkan
kepadanya program microsoft paint. Dengan
mempunyai komputer sendiri, Fara bebas melakukan kreasinya.
Tidak di sangka, di layar monitor Fara muncul gambar-gambar lucu.
Ada sponge bob dengan berbagai versi, yang botak, pakai rambut, sedang makan es
krim, dan sebagainya. Lama-lama gambar itu berkembang menjadi sponge bob yang
sedang naik perahu lengkap dengan layarnya. Ada pula latar belakang matahari
dan awan. Saya tersentak. Gambar-gambar itu menceritakan suasana ketika kami
sekeluarga naik perahu di Ancol.
Awalnya saya tidak yakin Fara yang membuat gambar-gambar
itu. Saya bertanya kepada semua orang dewasa di rumah, dan tak seorang pun
mengaku membuatnya. Sampai saya melihat sendiri keleturan tangannya memainkan
mouse mengklik icon demi icon. Wah, saya tertegun, takjub dan bersyukur, Fara
punya talenta dalam menggambar. Rupanya Fara merekam dengan baik pengalaman-pengalaman yang
diperolehnya di Ancol.
Pas Tahun Baru 2013, saya dan suami membawa Fara dan
Umar ke Sea World Ancol. Dari rumah perjalanannya sangat lancar, namun begitu
menjelang pintu masuk Ancol kemacetan menghadang. Butuh dua jam dari lampu
merah Ancol untuk sampai ke wahana Sea World. Hujan turun dengan deras, membuat
suasana semakin tidak bersahabat. Rasanya ingin pulang saja, tetapi sudah
kadung sampai Ancol, ya terpaksa dinikmati saja kemacetan itu.
Sesampai di Sea World, suasana begitu ramai. Rasanya sayang
sudah mengeluarkan uang namun tidak leluasa menikmati keindahan biota laut karena berdesak-desakan. Tapi,
lagi-lagi kami berpikir, perjalanan ke Sea World ini adalah untuk anak-anak,
bukan untuk kami. Mereka terlihat tetap happy
dan enjoy walau ditengah
kerumunan orang. Fara sangat tertarik dengan akuarium yang berisi aneka ikan
hias kecil-kecil. Lama dia tertegun di depan akuarium itu. Diajak berkeliling
dia kembali lagi ke tempat itu. Fara juga suka melihat akuarium utama yang
diisi oleh ikan-ikan besar, seperti ikan pari, ikan napoleon, juga penyu.
Kami sempat menunda-nuda waktu untuk masuk ke dalam
terowongan ikan lantaran antriannya sangat panjang, dan Fara tentu tidak bisa
diajak mengantri. Dia tidak bisa berdiri diam. Sementara rugi rasanya bila
tidak masuk ke dalam terowongan, karena tidak setiap saat kami bisa main ke Sea
World ini. Akhirnya saya putuskan untuk mengantri
sambil mengendong Fara yang berat badannya 17 kg. Saya harus mengendongnya
karena dengan memeluknya saya bisa menahan dan menentramkan Fara bila dia ingin
berlari. Sementara Umar digendong oleh ayahnya. Hampir satu jam lamanya kedua
tangan ini mendekapnya. Mulut saya terus membujuknya sambil mengarahkannya
melihat atraksi di akuarium utama, dimana petugas sedang memberi makan pada
ikan-ikan di sana. Lega rasanya ketika kaki menapak memasuki area terowongan.
Fara saya turunkan dari gendongan, dan dia mengamati ikan-ikan yang lalu lalang
di atas kepalanya. Hari itu kami pulang disaat hari sudah senja. Sekujur badan
terasa letih.
Sebulan setelah itu, Fara menggambar ikan-ikan kecil di
komputer. Ikan-ikan yang berwarna warni
itu berada dalam sebuah kotak. Diluar kotak ada sosok orang yang memegang huruf
F. Ketika saya bertanya kepada Fara siapa orang yang ada di gambar itu, Fara
menjawab, “Itu Fara”. Ternyata ia menggambar dirinya sendiri. Kemudian Fara membuat
gambar yang lain. Kali ini sosok “Fara” itu berada dalam kotak dan ikan-ikan
berada di luar area kota. “Fara dalam terowongan ikan,” katanya kepada saya
sambil menujuk gambar itu.
Bagi saya, talenta Fara dalam menggambar adalah anugerah. Dengan
perbendaharaan kata yang masih terbatas ia bisa mengekspresikan imajinasi dan
isi hatinya melalui menggambar. Hati saya terharu. Ancol, telah turut membangun
mengasah talenta itu dengan memberikan pengalaman-pengalaman indah kepada Fara.
Padahal tadinya kami hanya ingin sekadar berekreasi dan mengusir kejenuhan di
rumah.
Pada bulan Maret ini, sekolah Fara akan field trip ke
Ancol. Mendengar kata Ancol, saya
langsung bersemangat. Terbayang Fara akan mendapatkan pengalaman baru dan akan
muncul imajinasi-imajinasi baru yang dituangkan dalam gambar-gambarnya. Sudah
banyak gambar yang dibuat Fara. Sampai sekarang saya menyimpan karya-karyanya.
Saya sedang mencari guru les lukis untuk mengarahkan dan mengembangkan bakat
Fara. Entahlah, hati ini berbisik, suatu saat Fara bisa menjadi maestro dalam
melukis. Kalau kelak itu menjadi nyata, maka saya katakan semua itu bermula
dari kenangan indah yang diperolehnya di Ancol.
![]() |
| Gambar 1. Fara sedang melihat ikan yang berwarna warni dalam akuarium. |
![]() |
| Gambar 2. Fara sedang berada dalam terowongan ikan. |
![]() |
| Gambar 3. Fara sedang berlayar. |



No comments:
Post a Comment